GKR HEMAS BUKA 7TH ATTS 2019: Ajining Raga Ana Ing Busana

share on:
GKR Hemas mendampingi Ratu Tuanku Azizah Amanah melihat beragam wastra khas Indonesia dan Negara Asean yang didisplay di Pendopo Royal Ambarrukmo || YP/Fadholy

Yogyapos.com (SLEMAN) - Perhelatan 7 Th Asean Traditional Textile Symposium (ATTS) 2019, di Hotel Royal Ambarrukmo Sleman, Selasa (5/11/2019) dibuka oleh Sekda DIY Ir arofah Noor Indriani MSi mewakili Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X serta Gusti Kanjeng Ratus Hemas selaku Executive Committee ATTS 2019.

Event yang diinisiasi Traditional Textile Arts Society of South East Asia (TTASSEA) ini akan berlangsung hingga 8 November, mengusung spirit: ‘Embracing Change, Honoring Tradition’ (merangkul perubahan dan menghormati tradisi) ini dihadiri 8 Negara Asean. Yakni: Malaysia, Singapura, Thailand, Brunei, Filipina, Kamboja, Laos dan Vietnam. Nampak hadir juga delegasi dari Amerika, Australia, Jepang, Korea, China serta Spanyol.

GKR Hemas dalam open speechnya mengungkapkan, penyelenggaran ini momentumnya tepat 15 tahun yang lalu konferensi tekstil di Cisarua tahun 2004. “Pasca 15 tahun, Indonesia, terkhusus Yogyakarta kini menjadi tuan rumah symposium wastra Asean 2019. Dengan mengangkat tema ‘Merangkul Perubahan dan Menghormati Tradisi’, Kita tidak boleh melupakan keberadaan wastra tradisional adalah jantung dari budaya di Asia Tenggara. Sarat tradisi, historis, estetika dan artistik,” kata GKR Hemas mantap.

Permaisuri Sri Sultan HB X ini menambahkan, jika perubahan adalah sebuah siklus yang terjadi di setiap aspek kehidupan. Tidak terkecuali di lini wastra tradisional. “Inovasi dan eksplorasi pada tekstil tradisional di kawasan Asia Tenggara harus terus bergerak dan tumbuh. Lantaran ini menjadi stimulus integral untuk melestarikan dan menghormati tradisi. Kami berharap symposium serta rangkaian kegiatan di ATTS 2019 kali ini bisa menjadi value, pengalaman baru dan bermanfaat bagi para delegasi negara sahabat dan tamu undangan. Selamat datang di Yogyakarta. Kota budaya Asean,” jelas GKR Hemas, disambut aplaus para hadirin di Kasultanan Ballroom.

Nampak hadir Permaisuri Agung Malaysia, Ratu Tuanku Azizah Aminah, yang datang bersama kedua putrinya, Tengku Nur Zahirah dan Tengku Putri Nadirah. Didampingi GKR Hemas dan Gusti Putri, Ratu Tuanku Azizah nampak begitu antusias mengamati beragam wastra tradisional yang didisplay di Pendopo Royal Ambarrukmo. Bahkan permaisuri Raja Sultan Abdullah Ahmad ini sempat menggoreskan malam ke kain batik nitik khas Bantul. “Ternyata susah. Harus tepat dan cermat. Harus belajar lagi,” kata Ratu Tuanku Azizah dengan logat khas melayu.

Sementara Sekda DIY Ir Arofa Noor Indriani MSi saat membacakan sambutan dari Gubernur DIY mengatakan, Yogyakarta tumbuh menjadi ruang  pendidikan, budaya, wisata dan toleransi. Menurut Ir Arofa, dua wajah Yogya juga bisa saling mengisi dan melengkapi.

“Dua wajah tersebut yakni tradisi dan modernitas. Kedua elemen ini berjalan selaras dengan nafas Yogyakarta. Dan kain ataupun tekstil merupakan kebutuhan hakiki setiap manusia. Busana yang kita kenakan juga menyiratkan sebuah karakter. Anda adalah apa yang anda kenakan. Dalam filosofi Jawa biasa disebut: Ajining Raga Ono Ing Busana. Wastra kini tumbuh dengan beragam corak serta inovasi, namun tetap menyelipkan filosofi luhur. Salah satu wastra tradisional Indonesia adalah Batik yang telah ditetapkan oleh Unesco pada 2 Oktober 2009, sebagai warisan budaya tak benda,” tandas Sekda DIY.  (Dol)

 

 

 

 

 

 

 

 


share on: