Drs Heroe Poerwadi MA : Ada Nafas 'Gandeng-Gendong' di Jogja Cross Culture

share on:
Wawali Yogya Heroe Poerwadi didampingi Altiyanto Henryawan dalam sesi temu media di Balai Kota || YP/Ist

Yogyapos.com (YOGYA) - Sebuah gerakan budaya yang dibidani komunitas budayawan dan seniman muda akan hadir dalam tajuk ‘Jogja Cross Culture’ pada 3-4 Agustus 2019, di kawasan Titik Nol Kilometer Yogyakarta. Event yang disupport penuh oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Yogya dan Dinas Kebudayaan (Disbud) Kota Yogya ini sebagai perwujudan filosofi Gandeng-Gendong yang menitikberatkan kepada semangat gotong-royong.

Wakil Walikota (Wawali) Yogya Drs Heroe Poerwadi MA yang didapuk jadi Ketua Panitia dalam sesi temu media, Selasa (30/7) menjelaskan, kedudukan Yogya sebagai kota budaya di Asean yang termaktub dalam Forum ASEAN Ministers Responsible for Culture and Art Tahun 2018, adalah sesuatu yang istimewa dan membanggakan. “Yogya tidak hanya dipandang sebagai asset budaya Nasional. Tetapi juga asset budaya Internasional. Merespon situasi tersebut, Pemkot dan Disbud Kota menggandeng sejumlah budayawan dan seniman muda menelurkan event Jogja Cross Culture yang mengusung nafas Gandeng-Gendong,” tutur Heroe Purwadi.

Wawali Yogya melanjutkan, semangat Gandeng-Gendong adalah perwujudan filosofi gotong royong berbagai elemen masyarakat yang terbagi menjadi 5 K: Kota, Kampung, Kampus, Komunitas dan Korporat. “Khusus bagi Yogya, ditambah satu elemen penting: Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Konsep partisipatif ini menjadi penting bagi sebuah gerakan budaya yang kontekstual, dan silang budaya yang posifit dan konstruktif,” imbuh Heroe Poerwadi.

Sementara itu Kadisbud Kota Yogya, Ir Eko Suryo Maharsono MM mengutarakan, tugasnya adalah melakukan pembinaan, bagi para pelaku seni dan juga masyarakat. Acara ini juga mengetengahkan hakikat dari kebudayaan di Yogyakarta. “Budaya yang telah menyesuaikan dengan perkembangan zaman tetapi ruhnya tidak berubah. Kita jaga ruh kebudayaan sesuai marwahnya. Event ini dibentuk atas kesadaran bahwa budaya bukanlah sebuah komoditas. Budaya adalah sebuah cara hidup yang tumbuh dan berkembang pada sebuah kelompok dan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Bagaimana budaya itu hidup dan menghidupi,” papar Eko Suryo detail.

Sebanyak 14 Kecamatan di Kota Yogya akan terlibat langsung pada acara ini. Seperti pembuatan Jenang yang diberi nama Golong Gilig. Ada juga aksi Njoged Njalar, Historical Trail Njeron Benteng

Sejarah, dikemas dalam tajuk Historical Trail Njeron Benteng, Gandes Luwes, Historical Orchestra dan Cross Culture Performance yang mengharmonisasikan karawitan, musik orchestra, choir, dan seniman-seniman Jogja yang berkolaborasi dengan seniman internasional di satu panggung.

Program Director Altiyanto Henryawan menambahkan, iklim budaya di Yogya itu sangat membangun. Terdapat silang budaya yang saling bersinergi, yang tidak melupakan akarnya.

“Kita sebagai generasi penerus, wajib menjaga ruh sebuah budaya warisan nenek moyang agar tidak terkontaminasi hal negatif,” pungkas Altiyanto.  (Dol)

 

 

 

 


share on: