Dolanan Tradisional, Memupuk Sikap Peduli dan Kerjasama Sejak Dini

share on:
Para pelajar begitu antusias dan gembira bermain dolanan tradisional || YP/Fadholy

Yogyapos.com (BANTUL) - Dengan penuh semangat, Kaka Aroyan meraih dua bambu enggrang berukuran tinggi sekitar 2 meter. Siswa kelas 3 SD ini perlahan berusaha menaiki tumpuan enggrang. Namun beberapa kali terjatuh, gagal menjaga keseimbangan tubuhnya. Sejumlah temannya lantas membantu memegang kedua bambu tersebut. Dan, haapp...keseimbangan Kaka mulai teratur, lalu perlahan jalan ke depan. Siswa SD Bantul 1 ini pun sumringah. Lantas bergantian dengan teman yang lain.

Begitulah keseruan acara ‘Internalisasi Nilai Tradisi Melalui Permainan Tradisional & Dongeng Rakyat’ yang diadakan Kemendikbud RI kerja bareng dengan Disbud dan Dikpora Bantul, di Lapangan Trirenggo Bantul, Rabu (10/7).

Sekitar 250 pelajar SD dan SMP di wilayah Bantul begitu antusias memainak sejumlah dolanan tradisional, yang diampu oleh Sanggar Kampoeng Dolanan Panggungharjo Bantul. Beberapa permainan tradisional yang disuguhkan antara lain: enggrang, balap theklek, tembak tulup, gobag sodor, dakon, adu kelereng dan kasti.

Dalam sambutannya, Kepala Seksi Ekspresi Budaya & Tradisi Kemendikbud, Satriyo Puji Raharjo SE mengatakan, kegiatan tersebut sebagaia wujud kepedulian Kemendikbud terhadapa kearifan lokal, khususnya dolanan tradisonal dan dongeng rakyat. “Di era serba modern seperti sekarang, kedua elemen tersebut mulai terabaiakn oleh anak-anak dan generasi muda. Dan kami berusaha melestarikannya, lantaran dalam setiap dongeng dan permainan tradisional sarat akan nilai luhur budaya,” ujar Satriyo Puji Raharjo.

Sementara itu, Kadisbud Bantul Nugroho Eko Ssos MM sangat mendukung dan mengapresiasi acara ini. Menurutnya, banyak sekali nilai luhur yang terkandung di dalamnya. “Seperti sikap kerjasama, sportifitas, kejujuran, kompetitif dan merangsang daya kreatifitas bagi anak. Di jaman serba gadget, sangat riskan sekali dampak negatif bagi anak-anak. Maka peran orangtua, keluarga sangat krusial dalam monitoring perkembangan anak,” jelas Nugroho Eko.

Di tengah acara, yogyapos.com mencoba berbincang dengan orangtua anak. Rosa Pramita warga Priyan, sangat mendukung sekali acara seperti ini digelar rutin. Banyak sisi positif untuk membangun karakter anak dan jiwa sosialisasi. “Dolanan tradisional menuntut anak untuk kerjasama dengan temannya. Saling berbagi peran. Dengan sendirinya, mampun menekan sisi egois si anak,” katanya singkat.

Dalam jadwal, acara ini akan berlangsung sampai Kamis (11/7). Yang akan diisi sesi dongeng rakyat, yang diikuti sekitar 150 pelajar. Akan menampilkan Sanggar Saniji, Sanggar Sumunar dan dalang cilik Branjang Pamadi. (Dol)

 


share on: