Diduga Lakukan Fitnah dan Ujaran Kebencian, Oknum Pengusaha Malioboro Dipolisikan

share on:
Tim pengacara terlapor menunjukkan kronologi dugaan tindak pidana dan bukti pelaporannya ke Polda DIY || YP/Ismet

Yogyapos.com (YOGYA) – Dianggap melakukan fitnah dan ujaran kebencian terhadap warga Padang di Yogyakarta, BS (47) alias Chuncun seorang pemilik toko di Jalan Malioboro, diadukan ke Polda DIY, Sabtu (10/8/2019). Pelapor dalam kasus ini Martius mewakili Masyarakat Minangkabau (Padang) di Yogyakarta.

Didampingi tim pengacaranya teridiri Armen Dedi SH, Zulfikri Sofyan SH, Dolly Rinadldi SH dan Nerry Alberto G SH, pelapor menyatakan dugaan tindak pidana yang mengandung muatan fitnah, ujaran kebenciaan dan SARA itu dilakukan terlapor melalui vlog, dengan setting tempat di dalam mobil yang tengah berjalan.

Melalui vlog itu, terlapor semula membicarakan soal para Pedagang Kaki Lima (PKL) yang selama ini menggelar dagangannya di trotor Malioboro, termasuk di depan toko miliknya. Narasi kemudian melebar dan menunjuk langsung bahwa para warga Padang adalah perampok, benalu ekonomi dan teroris.

“Video tersebut beredar di grup WA. Padahal warga Minang di Yogyakarta selama ini tidak seperti yang dituduhkan terlapor,” jelas Armen Dedi mewakili pelapor kepada sejumlah wartawan usai melakukan pengaduan ke Polda dan memperoleh tanda bukti lapor Nomor STTLP/06/VIII/2019/DIY/SPKT.

Catatan dari Ikatan Keluarga Besar Minang Yogyakarta (IKBMY), warga asal Padang di Yogyakarta mencapai 8.000 orang. Mereka menggeluti beragam pekerjaan, dari PKL, Advokat, Notaris, Dosen, pengusaha, dan lain-lain.

Ketika video berbau ujaran kebencian, penghinaan dan fitnah itu sampai ke mereka, maka dilakukanlah pertemuan. Hasil pelacakan, diketahui bahwa video dibuat oleh terlapor dan beredar di grup WA para pemilik toko sepanjang Jalan Malioboro-Ahmad Yani Yogyakarta.

“Kami mengetahui ada video itu karena dalam grup WA perkumpulan pedagang itu ada anggota kami dari IKBMY. Dan sontak memicu emosi warga IKBMY. Makanya sebelum terjadi aksi yang tidak diinginkan, kami memilih melakukan pelaporan ke kepolisian. Tentu kami sangat berharap agar kasus ini diproses sesuai prosedur hukum yang berlaku. Ya kami tuntut keadilan demi menjaga marwah orang Minang dalam bingkai kebhinekaan,” tegas Armen.

Ditambahkan Zulfikri Sofyan, perbuatan terlapor membuat vlog sangat berpotensi merusak persatuan dan kesatuan anak bangsa. Jejak digitalnya tak akan hilang, sehingga jika tidak diproses hukum akan meninggalkan preseden buruh yang kapan pun bisa menimbulkan persoalan serius.

“Bagi kami, saatnya kepolisian menyelesaikan persoalan seperti ini melalui penegakan hukum yang berkeadilan,” tandas Zulfikri yang diamini sesepuh dan pengurus IKBMY.

Menurut advokat senior Yogya ini, apa yang dilakukan terlapor masuk kategori melakukan pelanggaran sebagaimana diatur dalam pasal 28 ayat 2 UU ITE dan pasal 156 ayat 1,2 KUHP.

Dikonfirmasi di tokonya, BS selaku terlapor membantah melakukan  ujaran kebencian kepada warga Padang di Yogyakarta, melainkan sekadar membuat video tersebut untuk kalangan sendiri dengan semangat untuk mengembalikan Malioboro seperti dulu. “Mestinya yang mengedarkan yang dilaporkan. Tapi silakan, akan saya hadapi,” ujarnya.

BS malah mempesilahkan wartawan untuk melihat langsung bagaimana trotoar di depan tokonya dipergunakan untuk berdagang PKL. “Itu hak kami tapi digunakan mereka untuk berdagang. Ada yang memperjual belikan segala,” tukasnya. (Met)

 


share on: