#AMONG KURNIA EBO: Nekad Keliling Dunia Modal KTP

share on:
Among Kurnia Ebo yang selalu ceria dan super nekad di Den Haag || YP/Ist

KISAH kehidupan orang memang tak pernah bisa diduga. Apa yang diimpikan kadang bisa tercapai tapi kadang juga berbelok arah. Tapi semua pasti ada hikmahnya. Yang penting bisa membuat hidup jadi maju dan bertumbuh. Setidaknya prinsip itu yang diyakini Among Kurnia Ebo. Mantan wartawan, yang kini memilih jalan hidup sebagai pengusaha dan traveler.

Bermula jadi backpacker kini malah punya biro travel yang membawa Groupnya keliling Amerika dan Eropa. Apa yang dijalaninya sekarang tak ada hubungannya dengan kuliahnya dulu. Ebo dulu kuliah di Fakultas Sastra UGM dan aktif di dunia pers kampus dan menjadi penulis lepas di berbagai media massa. Tak berselang lama, kemudian direkrut menjadi wartawan oleh sebuah grup media. Cukup lama berkarir di sana, lima tahun lebih. Sebagai wartawan ia seringkali bertemu banyak kalangan.

“Karena pergaulan itulah saya kemudian memutuskan risain dan memilih jalur bisnis. Sampe sekarang. Malah sidang jarang menulis lagi,” ujar arek asli Lamongan ini menerawang.

Selain mengurusi bisnis sekarang ini Ebo lebih banyak melampiaskan hobinya sebagai traveler. “Jalan-jalan itu nagih. Kita melihat banyak hal baru. Punya kawan baru. Dampaknya kita jadi bijak memandang perbedaan. Juga melatih berpikir taktis karena selama perjalanan itu banyak hal tak terduga, terjadi diluar skenario. Saat itulah kita harus membuat keputusan cepat tapi tepat,” ungkapnya.

Hobi traveling itu membuatnya bisa menjelajah ke lima benua. “Sampai jari ini sudah 86 negara yang skunjungi. Targetnya bisa sampai 100 negara,” tandasnya.

“Petualangan seru saat Ramadhan kemarin selama sebulan berada di Amerika Latin. Ingin tahu rasanya berpuasa di negara-negara yang muslimnya minoritas. Berpindah mulai Kolombia, Equador, Bolivia, Chili hingga Peru. Ada suasana batin yang tak bisa diungkapkan saat bertemu saudara-saudara muslim di sana. Khususnya saat teraweh dan buka puasa bersama,” kenangnya. Aktivitas lainnya, setiap bulan April Ebo mengajak teman-temannya yang kebanyakan pengusaha mengadakan Kopdar Bisnis di Eropa. Sambil jalan-jalan sambil memberi mentoring bisnis.

“April itu musim semi, suhunya bersahabat untuk orang Indonesia. Saya bikin acara jalan-jalan, nyewa bus wisata, tapi dalam perjalanan banyak diselingi acara diskusi, sharing, dan mentoring bisnis. Sehingga, liburannya dapat, ilmu bisnis dan network bisnisnya juga tambah banyak karena pesertanya punya bianis,” ujarnya.

Kopdar bisnisnya ini bahkan datang dari berbagai kota, bahkan sebagian membawa sekalian pasangan atau keluarganya. Rupanya model tripnya yang santai ini lebih disukai karena tidak kemrungsung mengejar target destinasi seperti tour konvensional. Ditanya tempat mana yang paling berkesan ketika mengunjungi banyak negara tersebut, Ebo mengatakan bahwa hampir semua negara punya kesan tersendiri. “Tiap negara punya keunikan tersendiri,” tandasnya.

Inggris, kata dia, lebih nyaman karena bersih dan teratur, meski segalanya mahal. Belanda lebih bersahabat dan murah. Tapi, Machu Pichu di Peru membuat decak kagum dan geleng-geleng kepala karena berbagai misteri dan keajaibannya. Semenyara Amerika yang kita kira wow itu, rasanya biasa-biasa saja.

Dalam waktu dekat, Ebo juga akan segera merilis buku traveling pertamanya. Berbagai kejadian unik selama menjadi traveler akan ia bagikan agar bisa menjadi informasi sekaligus panduan bagi yang menyukai dunia traveling. “Judulnya mungkin agak nyeleneh. Gaya Traveling Anak Muda: Keliling Dunia Modal KTP. Doakan segera terbit ya," ujar penggemar sate klatak yang ternyaata osama sekali tak bisa berbahasa Inggris tapi tak pernah membuatnya takut pergi ke negara mana pun ini. (Met)


share on: