11 NOVEMBER DI TBY: IKPM Pentaskan Ketoprak Cermin Kepahlawanan Sultan Agung

share on:

Yogyapos.com (YOGYA) - Sebanyak 25 pelajar dan mahasiswa mewakili 25 daerah se Indonesia yang tergabung dalam Ikatan Pelajar dan Mahasiswa (IKPM) DIY, siap unjuk kreativitas melalui pementasan ketoprak berbahasa Indonesia berjudul 'Cermin', pada 11 November 2019 pukul 19.00, di Gedung Societet Taman Budaya Yogyakarta (TBY) Kota Yogyakarta.

Lakon ketoprak yang mengisahkan suka duka perjuangan Sultan Agung menyerang Batavia dimainkan para mahasiswa dan pelajar wakil daerah se- Indonesia bersama para seniman teater Yogyakarta. Kegiatan ini merupakan program inkulturasi Selendang Sutera yang diselenggarakan Dinas Kebudayaan DIY.

Ide cerita dari SH Mintarjo yang diolah menjadi naskah ketoprak oleh Erwito Wibowo dengan sutradara Brisman HS. Para pelajar dan mahasiswa itu beberapa minggu ini berlatih suntuk di TBY. Menurut sumber dari Dinas Kebudayaan yang membiayai pentas dengan Dana Keistimewaan ini, ada dua tujuan yang diraih. Pertama mengkondisikan silaturahmi budaya antar mahasiswa dan pelajar yang berasal dari daerah daerah pelosok Indonesia. Kedua mengenalkan kembali sosok pahlawan nasional Sultan Agung yang berjuang mengusir penjajah. Bagaimana prajurit Mataram berjuang dan mengatasi tantangan Medan tempur yang berat tergambar jelas dalam pertunjukan ini. Didampingi itu juga memberi pengalaman baru dalam bekerjasama mensukseskan pentas bagi pemain. Apalagi tim musik yang dipimpin Mamiek Slamet juga terdiri dari personil yang berasal dari beberapa daerah.

“Semoga ketoprak berbahasa Indonesia ini bisa menjadi wahana edukasi kebangsaan bagi kita semua,” kata Hery Bangun Saputra, pimpinan produksi.

Sementara Brisman HS selaku sutradara mengungkapkan, sejarah bisa menjadi cermin bagi anak bangsa Indonesia untuk menengok masa silam yang heroik penuh perjuangan. Semangat Sultan Agung para senapati dan prajurit Mataram untuk menyerang kembali Batavia sempat membuat keder pemimpin VOC. Mereka mengerahkan antek anteknya untuk menghambat perjuangan itu. Tentu saja prajurit Mataram tidak tinggal diam. Terjadilah dua medan tempur, perang terbuka di lapangan dan perang tertutup di medan intelijen.
“Bagaimana akhirnya, dapat disaksikan pada pentas Cermin, Ketoprak Berbahasa Indonesia di Societet Taman Budaya Yogyakarta tanggal 11 Nopember nanti. Pembangkitan semangat nasionalisme ini diikuti oleh para mahasiswa dan pelajar wakil dari daerah daerah di Indonesia. Mereka merasa senang dilibatkan dalam pentas ketoprak berbahasa Indonesia ini,” rangsangnya. (Mustofa W Hasyim)

 

 


share on: